Info
|
Profil G+ Profil Facebook Profil twitter profil Youtube rss feed
Berita Unik

Galeri Foto

Video

News

Pro Kontra

Bagaimana tampilan situs ini menurut anda?

Terimakasih atas kunjungannya, Kami minta waktu shobat sebentar untuk kasih penilaian, Apa shobat Suka Desain dan Warna situs ini?

Pro!
Kontra!
Tampilkan postingan dengan label Warisan Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Warisan Budaya. Tampilkan semua postingan

Seni Budaya Bali Jadi Daya Tarik Turis Belanda


IDETIK - Masyarakat Belanda yang berusia lanjut kini banyak datang melakukan perjalanan wisata ke Bali bersama anak cucunya sebagai acara nostalgia, dengan menyaksikan pantai, keindahan alam, dan seni budaya.

"Benda-benda budaya Bali pada zaman kerajaan tempo dulu banyak diboyong dan tersimpan di Museum di Leaden, Belanda, dan mereka ingin menyaksikan Bali masa kini," kata Made Suardana, pemandu wisata khusus turis Belanda, Selasa (6/1).

Ia mengatakan, pantai, keindahan alam, pemandangan berupa sawah bertingkat milik petani anggota subak (organisasi pengairan tradisional Bali) masih menjadi daya tarik tersendiri dari wisatawan Belanda untuk menikmati liburan di Pulau Dewata.

Karunia Tuhan berupa keindahan alam yang masih alami ada di Bali menjadi daya tarik tersendiri bagi turis Belanda, baik yang berusia lanjut maupun usia muda, ingin menyaksikan dari dekat perkembangan budaya Bali tempo dulu hingga terkini.

Anak-anak muda asal negeri kincir angin itu tetap ramai berlibur ke Bali terutama pada musim libur pertengahan tahun, sedangkan wisatawan lanjut usia (lansia) biasanya datang melakukan perjalanan wisata sekitar bulan-bulan diakhir tahun.

"Turis Belanda masih ramai ke Bali bahkan sekarang lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya," tutur Made Suardana yang mengaku sering saat mengantar tamunya keliling Pulau Dewata, terpaksa menginap di daerah pegunungan atau di kawasan jurang sungai.

Kesulitan transportasi udara dari Bali ke Eropa terakhir ini tampaknya tidak mengurangi minat masyarakat Eropa terutama asal Belanda yang berlibur ke Pulau Dewata dengan rata-rata sekali kunjungan selama dua minggu.

Ia bersama kelompok pemandu wisata lainnya hampir setiap hari mengantar tamu asal Belanda ke pelosok pedesaan untuk bisa menyaksikan keindahan alam yang masih alami di daerah pegunungan, adat istiadat masyarakat yang tiada duanya di dunia.

Jika pelancong asal Belanda yang berusia lanjut yang umumnya suami istri ke Bali, melakukan perjalanan untuk bernostalgia, dan mereka bisa menetap di daerah ini hingga satu bulan untuk bisa mengenang pengalaman yang pernah terjadi tempo dulu.

Dinas Pariwisata Bali mencatat jumlah kunjungan turis Belanda ke daerah yang dijuliki Pulau Kahyangan oleh masyarakat internasional bertambah hampir lima persen dari sebanyak 66.413 orang selama Januari--November 2013 menjadi 69.732 orang periode sama pada 2014.

Tidak saja turis Belanda, wisatawan asing asal negara-negara Eropa juga bertambah banyak yang melakukan perjalanan ke Pulau Dewata, yakni mencapai 687.700 orang selama sebelas bulan terakhir 2014, atau peranannya 20,12 persen dari seluruh orang asing ke Bali yakni 3,4 juta orang.

Ada Tujuh Petilasan Bung Karno di Solo Dapat Penghargaan


IDETIK - Tujuh lokasi di Solo yang dinilai bersejarah dan menjadi saksi bisu perjalanan perjuangan Presiden Pertama Indonesia Ir. Soekarno (Bung Karno), mendapat penghargaan "Soekarno Heritage Awards 2014".

Tujuh lokasi favorit Bung Karno ditetapkan, dari enam usulan yang diajukan Pemerintah Kota (Pemkot) dalam kontes Soekarno Heritage Awards pada November 2014, kata Kepala Bidang (Kabid) Pelestarian Kawasan dan Benda Cagar Budaya (BCB) Dinas Tata Ruang Kota (DTRK) Pemkot Surakarta Mufti Raharjo di Solo, Jumat (16/1).

Ia mengatakan Soekarno Heritage Awards di seluruh Kabupaten/kota di Indonesia adalah pemilihan lokasi Bung Karno pernah tinggal dan melakukan aktivitas apa pun di daerah tersebut.

"Ada enam yang kami ikutkan kontes, tapi ternyata pihak panitia Soekarno Awards justru menambah satu lokasi yakni Pura Mangkunegaran karena dinilai ada kedekatan juga dengan Soekarno. Jadi tujuh terima penghargaan Soekarno Awards," katanya.

Sementara enam lokasi yang ikut kontes di antaranya memiliki nilai sejarah tinggi dengan Bung Karno di antaranya kamar Bung Karno di Rumah Dinas Wali Kota Solo, Loji Gandrung. Tempat tersebut sering ditinggali Sang Proklamator saat berkunjung di Kota Solo.

Selain itu, Mufti menyebutkan patung Raden Ngabehi Ronggowarsito di depan Museum Radya Pustaka yang diresmikan Soekarno pada 11 November 1953. Bung Karno juga sering singgah di Hotel Dana. Terdapat kamar 45 yang khusus digunakan Soekarno dan dijadikan sebagai tempat favoritnya.

Soekarno pernah menyelenggarakan Pekan Olahraga Nasional (PON) pertama di Stadion Sriwedari Solo. Stadion itu menjadi tempat bersejarah yang ditorehkan Soekarno kala itu.

"Dalem Samanhudi di Laweyan merupakan pemberian Bung Karno serta Dalem Harjonagaran. Rumah itu sangat sering dikunjungi Soekarno karena Gotikswan merupakan sahabat baiknya," katanya.

Mufti mengatakan penghargaan Soekarno Awards menguatkan sejumlah bangunan bersejarah di Solo sebagai Kota Heritage. Pihaknya mulai menggagas pemberian insentif khusus seperti keringan pajak bumi dan bangunan (PBB) atau lain sebagainya kepada setiap bangunan yang masuk cagar budaya.

Pemberian penghargaan itu sebagai bentuk kepedulian Pemkot Surakarta terhadap bangunan cagar budaya. Setidaknya tercatat 150-an bangunan di Solo masuk bangunan cagar budaya (BCB).

Perawatan Minim, Ratusan Benda Cagar Budaya Tulungagung Terancam Punah


Salah satu benda atau situs cagar budaya yang mengalami kerusakan akibat lemahnya pola pengawasan dan pemeliharaan adalah situs Pancuran Songo yang ada di Kecamatan Sendang.

Jakarta, Indo Detik — Ratusan benda cagar budaya di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur terancam punah atau hilang ataupun rusak akibat lemahnya pengawasan dan minimnya perawatan dari lembaga terkait, sehingga berpotensi dicuri ataupun dirusak oknum warga yang tidak bertanggung jawab.

Salah satu benda atau situs cagar budaya yang mengalami kerusakan akibat lemahnya pola pengawasan dan pemeliharaan adalah situs Pancuran Songo yang ada di Kecamatan Sendang.

Dua bagian situs serupa patirtan berbentuk "yoni omben jago" atau tempat keluarnya sumber mata air saat ini diketahui telah rusak/patah.

Menurut analisa Ketua Komunitas Peduli Peninggalan Majapahit dan Kediri di Tulungagung, Bambang Eko Ariadi, kerusakan tersebut disebabkan ulah pengunjung yang tidak terawasi dengan baik.

"Memang tidak hilang. Dua yoni yang patah masih tersimpan, tapi kerusakan seperti itu harusnya bisa dicegah," ujarnya.

Situs Pancuran Songo hanyalah satu di antara ratusan benda/situs/kawasan cagar budaya yang terkesan dibiarkan ada tanpa tersentuh upaya pelestarian ataupun sekadar perawatan rutin.

Data resmi yang dikeluarkan Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan, sejak Museum Wajakensis di Boyolangu berdiri pada 1996 hingga sekarang, sudah ada sedikitnya 300-an benda cagar budaya yang telah teregistrasi.

Namun dari jumlah sebanyak itu, menurut keterangan Koordinator Wilayah Juru Pelihara BPCB Trowulan Tulungagung-Trenggalek, Hariyadi, hanya 15 situs yang dikelola langsung oleh lembaganya.

"Benda, situs ataupun kawasan cagar budaya yang tidak dikelola langsung oleh BPCB secara otomatis menjadi kewenangan (pemerintah) daerah," ujarnya.

Ia mengatakan, pada saat pendirian museum wajakensis yang menjadi sentra penyimpanan sebagian benda cagar budaya daerah, seluruh situs dan artefak budaya yang pernah ditemukan telah diinventarisasi.
Hasilnya, lanjut Hariyadi, ada lebih dari 300 benda/situs yang terverifikasi. Namun dari jumlah itu, hanya sebagian kecil yang telah dikelola dengan baik.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Tulungagung, Ahmad Pitoyo secara implisit mengakui lemahnya pengawasan sebagian besar situs ataupun benda cagar budaya yang tersebar di wilayah tersebut.

Selain terkendala masalah anggaran yang minim, ia berdalih ada beberapa kelompok masyarakat yang menolak dilakukannya eskavasi atas satu atau lebih situs cagar budaya yang ada di lingkungannya dengan alasan menjaga kesakralan.

"Bagaimanapun kami selalu bekerja sama dengan perwakilan BPCB Trowulan yang ada di Tulungagung untuk menjaga dan mengawasi benda-benda cagar budaya yang ada di daerah sini," kilahnya.

Saat ditanya data benda/situs cagar budaya daerah, pihak Dinas Pariwisata Tulungagung sendiri hanya mencatat sebanyak 47 situs yang telah terverifikasi.

Jumlah tersebut jauh dibanding data benda/situs cagar budaya yang pernah di data pihak BPCB Trowulan pada 1996 yang mencapai 300-an lebih.

"Tahun ini kami (pemda) bekerja sama dengan BPCB Trowulan berencana melakukan verifikasi ulang terhadap benda-benda, situs, maupun kawasan cagar budaya yang ada. Tapi mungkin karena anggarannya terbatas, penelitian akan dilakukan bertahap," ujarnya (aktual.co)

Situs Kampung Tua Papua Ditemukan di Pulau Nabire


IDETIK - Dalam situs itu, menurut Suroto ditemukan alat batu, manik-manik, keramik Cina Dinasti Ming (abad XVI-XVII) dan Dinasti Ching (abad XVII-XVIII), keramik Eropa, botol Eropa dan gerabah. "Keramik Eropa yang ditemukan terdapat cap pabrik pembuatnya, yaitu Fregout & Co Saastrusht Dragon Made in Holland dan Petrus Regout & Co Maastricht made in Holland," katanya.

Jakarta, Aktual.co — Arkeolog di Distrik Napan, Kabupaten Nabire, Provinsi Papua, menemukan situs kampung tua Mosandurei, yang merupakan situs permukiman.  "Situs Kampung Tua Mosandurei itu ditemukan dalam proses penelitian arkeologi," kata staf peneliti dari Balai Arkeologi Jayapura Hari Suroto, di Kota Jayapura, Papua, Sabtu (28/3).

Dalam situs itu, menurut Suroto ditemukan alat batu, manik-manik, keramik Cina Dinasti Ming (abad XVI-XVII) dan Dinasti Ching (abad XVII-XVIII), keramik Eropa, botol Eropa dan gerabah.  "Keramik Eropa yang ditemukan terdapat cap pabrik pembuatnya, yaitu Fregout & Co Saastrusht Dragon Made in Holland dan Petrus Regout & Co Maastricht made in Holland," katanya.

Selain itu, lanjut Suroto, di situs itu juga ditemukan sisa makanan berupa cangkang moluska laut dalam jumlah banyak dan tulang binatang.   "Situs Kampung Tua Mosandurei pada masa lalu dipilih sebagai situs pemukiman karena lokasinya yang dekat dengan sumber air tawar," katanya.

Ia menimpali, "Juga dekat dengan hutan sagu dan pesisir pantai. Letak situs di atas bukit sangat aman dan terlindungi dari serangan bajak laut yang banyak beroperasi di Teluk Cenderawasih pada abad ke-16 hingga abad ke-18."

Alumnus Universitas Udayana Bali itu menjelaskan lokasi strategis Situs Kampung Tua Mosandurei di pesisir utara Papua wilayah Napan itu, pada masa lalu merupakan bagian dari jaringan niaga dengan Kesultanan Tidore. (Aktual)
 

Video Clip